Author Archives: Pakdhe Sungkono

About Pakdhe Sungkono

akuntan pendidik, praktisi NLP, konsultan dan pendamping koperasi & UMKM, vegetarian, pemerhati lintas agama.

Survei Ala Cak Lontong

Survei Ala Cak Lontong

 Menurut hasil survey saya, dari 100 pasangan “teman tapi mesra (TTM)” ternyata 60 diantaranya mengakui kalau mereka TTM dan 40 lainnya mengiyakannya. Selanjutnya ditemukan fakta mengejutkan bahwa para pasangan yang melakukan TTM itu dapat berhasil karena memenuhi syarat 3 hal yaitu : ada teman, ada tapi dan ada mesra; jika salah satu syarat tidak terpenuhi maka tidak akan terjadi TTM.

Permainan dan pemelintiran kalimat-kalimat seperti itu hampir kita dengar setiap malam pada acara “Indonesia Lawak Klub (ILK)”. Dan bila ditanyakan kepada para penonton televisi tentang siapa orang yang melakukan hal seperti itu hampir dapat dipastikan mereka akan menjawab : Cak Lontong. Ya, pelawak berbadan tinggi besar  asal Jawa Timur itu sedang “naik daun”. Kapasitas dirinya naik cepat setelah secara rutin menjadi salah satu pengisi acara ILK di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.

Hal-hal yang dikemukakan oleh Cak Lontong sebenarnya sangat biasa dan tidak ada hal baru sama sekali. Tetapi kemampuan memilih kata, mengolah menjadi kalimat dan membuat analisis dengan cara mempermainkan indera penglihatan (visual), pendengaran (auditori) dan perasaan (kinestetik) itulah yang istimewa. Dan Cak Lontong mengakhiri dengan cara yang jitu dengan langsung masuk ke pikiran bawah sadar penonton, sehingga wajah, kata-kata dan gaya bicaranya menancap dalam ke dalam memori penonton. Kini, meskipun  penonton baru melihat wajahnya saja sudah membuat visualisasi sendiri di dalam dirinya bahwa kalau ada Cak Lontong acaranya pasti seru dan heboh. Efek positifnya sudah jelas bahwa nilai jual Cak Lontong akan tinggi dan laris manis mengisi pada berbagai acara televisi maupun acara berbayar lainnya.

Entah disadari atau tidak, Cak Lontong sudah menggunakan metode dan teknik NLP dalam meningkatkan kapasitas dirinya sebagai pelawak. Dia telah berhasil menancapkan ke dalam pikiran bawah sadar penonton televisi siapa dirinya dengan melalui indera visual, auditori dan kinestetik.  Milton model adalah salah satu metode yang dipakainya untuk mengacak-acak pikiran dan perasaan penonton sehingga acara menjadi “gayeng”. Kalimat-kalimat yang dilontarkan memang sengaja didistorsi, didelesi dan digeneralisasi melalui pemaparan hasil surveinya, tetapi metode ini toh tidak begitu dipermasalahkan oleh penonton karena mereka merasa terhibur. Dan model seperti ini menjadi terasa lebih pas di tengah-tengah menurunnya rating acara Yuk Keep Smile (YKS) dan Opera Van Java (OVJ) yang monoton dan mulai menjenuhkan bagi penonton televisi.

Satu pembelajaran yang dapat kita ambil sisi positifnya adalah bahwa NLP dapat dimanfaatkan untuk berbagai aspek kehidupan, termasuk untuk hiburan (NLP for Entertainment).  Jadi, belum terlambat kan kalau kita mulai serius mempelajari NLP dan mengaplikasikannya dalam berbagai aspek kehidupan.

Artikel ini saya akhiri dengan peribahasa. (lho mana peribahasanya ? Lha itu kan sudah diakhiri dengan peribahasa. Halaaah … Cak Lontong lagi ).

 

Tentang Wayang

Tentang Wayang : Kisah dan Filosofi Bagi Kehidupan

Menu tambahan ini diharapkan dapat menambah kita makin sehat secara holistik, terutama dari sehat perilaku dan sehat iman. Menu tambahan ini berisi kisah dari tokoh-tokoh wayang beserta pelajaran hidup apa yang bisa kita ambil dari tokoh ini. Agar runtut, menu ini akan disajikan menurut abjad mulai A sampai Z.

Secara ringkas dapat Inyong sampaikan bahwa kisah-kisah yang ada dalam cerita pewayangan, terutama dalam cerita Ramayana dan Mahabarata, dapat kita ambil pelajaran bahwa cerita tersebut bukan hanya semata-mata sebagai karya sastra manusia belaka. Jika kita mau membuka cakrawala lebih luas dalam pikiran, hati dan jiwa kita maka dapat kita ambil sebuah pelajaran berharga bahwa kisah kehidupan para tokoh dalam pewayangan sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan manusia baik masa lalu maupun masa kini. Jadi, cerita yang dikisahkan memberikan gambaran bahwa manusia dalam dirinya selalu mempunyai unsur hitam (kegelapan) dan putih (kebaikan). Setiap saat terjadi pertarungan dalam diri manusia antara kedua unsur itu, manakala unsure putih yang menang maka manusia lebih suci daripada para dewa (malaikat ?), sehingga malaikatpun menjadi iri;  dan manakala hitam yang menang maka manusia lebih jahat daripada binatang buas, sehingga setan pun bengong tak percaya.

Gambar yang tampil sebagai layar pembuka blog ini adalah sengkuni dan hanoman (senggono). Tokoh Sengkuni mewakili sisi gelap (hitam) manusia dan Senggono mewakili sisi baik (putih) manusia, meskipun dia  berujud kera. Gambar ini memberikan pelajaran bahwa jika kita mau berubah, maka Tuhan selalu memberikan begitu banyak jalan dari kegelapan menuju terang, sebagaimana gambaran dari kedua tokoh wayang tersebut.

Tentang Blog Ini

Melihat diri secara mikro dan makro

Melihat diri secara mikro dan makro

Salam Hebat,

Sungkono (biasa dipanggil Pakdhe Sungkono), akuntan pendidik, praktisi NLP, konsultan koperasi & UMKM, seorang vegetarian dan pemerhati lintas agama.

Blog ini berisi kumpulan tulisan mengenai akuntansi, NLP dan serba-serbi kehidupan. Semoga blog ini memberikan manfaat untuk diri sendiri, para pengunjung blog, lingkungan dan alam semesta.

Salam NLPer